Bersama Tanoto Foundation, Pendiri Royal Golden Eagle Dorong Pemberian ASI Demi Generasi Bebas Stunting

Oktober 17, 2019

Sumber: tanotofoundation.org
Angka stunting di Indonesia masih terbilang tinggi. Di tahun 2018, tercatat ada 30,8% anak Indonesia yang teridentifikasi stunting. Angka tersebut masih jauh dari batas toleransi yang ditetapkan WHO, yakni sebesar 20%. Melihat fakta tersebut, sang pendiri Royal Golden Eagle, yakni Sukanto Tanoto pun terdorong untuk ikut memerangi stunting di Indonesia.

Bagi Sukanto Tanoto dan istri, stunting tidak hanya bisa menghambat pertumbuhan anak. Stunting juga berisiko mengganggu proses belajarnya dan mengerdilkan potensi anak. Pendiri Royal Golden Eagle meyakini bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas. Lewat pendidikan inilah, mereka bisa mendapatkan peluang yang sama untuk meraih kesuksesan.

Stunting, Ancaman Nyata Bagi Sebuah Bangsa


Apakah seorang anak tumbuh sehat atau tidak, semua itu bisa diketahui dari pertumbuhan tinggi dan berat badannya. Seorang anak bisa dikatakan sehat dan tumbuh normal jika pertumbuhan tersebut sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Namun jika tinggi dan berat anak berada di bawah standar, bisa jadi ada yang salah dengan kondisi kesehatannya.

Stunting sendiri memang bukan sebuah penyakit. Stunting lebih tepat disebut sebagai kondisi di mana pertumbuhan anak terganggu akibat masalah kekurangan gizi kronis. 

Tinggi badan anak yang menderita stunting cenderung lebih pendek dibandingkan anak-anak seusianya. Meski demikian, stunting bukan sekedar soal tubuh pendek. Stunting adalah soal gangguan pertumbuhan dengan dampak yang jauh lebih luas. Bukan hanya mengganggu pertumbuhan anak, stunting juga menghambat perkembangannya.

Kesulitan belajar, lemahnya kemampuan kognitif, mudah lelah dan mudah terserang penyakit adalah beberapa risiko yang bisa dialami oleh anak yang menderita stunting. Lebih jauh lagi, stunting juga membuat anak lebih berisiko terserang penyakit berbahaya seperti kanker, jantung dan diabetes saat dewasa nanti.

Membangun sebuah bangsa jelas membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Namun dengan angka stunting yang masih terbilang tinggi, menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang maju hanya akan menjadi mimpi belaka. 

Sebagai seorang individu yang peduli dengan pendidikan, Sukanto Tanoto memandang stunting sebagai hambatan yang sangat serius. Sebagai pendiri grup Royal Golden Eagle, ia tidak ingin hanya menjadi penonton. Untuk itulah, ia dan Tanoto Foundation tergerak untuk melibatkan diri dalam upaya memerangi stunting.

Memerangi Stunting dengan ASI

Stunting bukanlah masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan usaha setengah hati. Stunting harus diselesaikan dengan mengerahkan segala sumber daya yang ada dan menuntut peran serta semua pihak. Kesigapan juga dibutuhkan dalam mengejar ketertinggalan yang demikian jauh. Untuk itulah, sang pendiri Royal Golden Eagle dan Tanoto Foundation menginisiasi program SIGAP.

Program bertajuk SIGAP dirancang untuk membantu pemerintah dalam mencapai target prevalensi stunting 20% di tahun 2030. Dengan SIGAP sebagai landasannya, Tanoto Foundation juga membangun kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian serupa.
Salah satu kegiatan yang terus didorong sang pendiri Royal Golden Eagle dan Tanoto Foundation dalam mengurangi angka stunting adalah sosialisasi pemberian ASI. Target dari program ini tidak hanya para ibu. Ayah juga menjadi sasaran dari program ini.

ASI dinilai sebagai makanan terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan sekaligus makanan pelengkap untuk anak usia 6 bulan hingga 2 tahun. Kandungan nutrisinya yang kaya bahkan bisa disejajarkan dengan susu formula. Karena itulah, dengan menjaga pola makan selama masa kehamilan dan memberi ASI hingga anak usia 2 tahun, risiko stunting bisa ditekan hingga titik terendahnya. Dengan demikian, tujuan sang pendiri Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto dalam mewujudkan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk mencapai kesuksesan bisa terwujud.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »