Beberapa Hal Menarik Tentang Tasbih yang Perlu Diketahui

Juli 21, 2019
sumber : islam.nu.or.id


Aisyah - Bagi umat Muslim, tasbih bukanlah benda yang asing. Tali kecil dengan banyak manik-manik ini digunakan sebagai alat bantu untuk menghitung bacaan dzikir. Rata-rata setiap orang Muslim memiliki satu tasbih dan tasbih biasanya diletakkan di musholla atau masjid untuk digunakan oleh siapa saja yang ingin berdzikir. Menggunakan tasbih bukanlah suatu keharusan karena ini hanyalah alat bantu.

Nah, buat Anda yang ingin menggali lebih jauh tentang tasbih, berikut kami akan hadirkan beberapa fakta menariknya.

1. Tasbih dipakai oleh berbagai umat lintas agama

Tali dengan puluhan biji kecil ini di dunia Islam memang dikenal sebagai tasbih, tapi sebenarnya tasbih juga dipakai oleh umat dari agama lain dari seluruh dunia. Namanya pun berbeda-beda. Umat Katolik menyebutnya biji Rosario, sedangkan penganut agama Buddha di Jepang menyebutnya sebagai juzu dan nenju, masing-masing berarti manik-manik menghitung dan manik-manik pikir.

Adapun orang Tiongkok menyebutnya sebagai zhu shu yang juga berarti manik-manik menghitung. Kaum Buddha Theravada di Burma juga menggunakan alat ini untuk beribadah.

2. Sudah dikenal sebelum zaman Islam

Menariknya lagi, tasbih sebenarnya sudah ada jauh sebelum Islam muncul. Asal mulanya memang tidak bisa dipastikan, tapi catatan tertua tentang penggunaan tasbih merujuk pada pemeluk agama Hindu di India yang kemudian dipinjam oleh agama Buddha. Patung pria suci Hindu menggunakan tasbih berasal dari abad ke-3 SM.

3. Perbedaan jumlah biji

Beda agama, beda pula jumlah biji tasbihnya. Rosario umat Katolik memiliki jumlah 50 biji, tasbih umat Hindu berjumlah 108 buah, sedangkan tasbih umat Islam 100 biji. Angka seratus itu didapat dari hitungan 33 dikali 3 jenis bacaan dzikir plus satu biji utama berukuran besar sebagai penanda bacaan habis.

Tasbih kecil memiliki 33 manik-manik, yang artinya penggunaannya harus mengulangi sebanyak tiga putaran untuk keseluruhan dzikir. Bahkan ada pula tasbih super kecil 11 manik-manik yang mengharuskan penggunanya mengulangi sebanyak 3 kali untuk satu jenis bacaan dzikir, sehingga bila ada 3 jenis bacaan dzikir maka dia harus mengulangnya sebanyak 9 kali putaran.

Orang Arab menyebut alat ini dengan berbagai nama, antara lain tasaabih, misbahah, subhah, dan nizaam.

4. Hukum menggunakan tasbih

Meski tasbih sangat lekat dengan umat Islam, pada kenyataannya ada pertentangan pendapat ulama tentang boleh tidaknya menggunakan tasbih untuk berdzikir. Ulama yang melarang berpendapat bahwa Nabi Muhammad berdzikir menggunakan tangan kanannya dan kelak di akhirat tangan akan dimintai pertanggungjawaban.

5. Industri yang menjanjikan

Industri pembuatan tasbih pun berkembang perlahan sampai aneka tasbih cantik dibuat. Tasbih kini hadir dalam berbagai bentuk, motif, dan warna indah. Bahan-bahan penyusunnya pun beraneka ragam, seperti satu keluarga di Kabupaten Tulungagung yang membuat tasbih dari bahan kayu langka. Mereka menamainya sebagai kayu songo yang berarti sembilan kayu. Kayu-kayu langka itu antara lain kayu cendana, kayu galih asem, kayu wali kukun, kayu setigi, kayu nagasari, kayu galih johar, kayu liwung, dan kayu dewandaru yang semuanya sudah langkah di Jawa.

Di Kabupaten Jember pun juga ada industri pembuatan tasbih yang namanya sudah dikenal luas, yaitu Desa Tutul di Kecamatan Balung. Di sana ribuan warga dipekerjakan untuk membuat aneka aksesoris dan kerajinan kayu, termasuk tasbih, yang diekspor ke berbagai negara seperti China.
 
Alat tasbih akan selalu ada dan bahkan semakin berkembang modelnya. Kini tasbih tak hanya dijual di toko-toko perlengkapan ibadah, tapi juga dijual luas secara online di e-commerce tanah air. Calon pembeli bisa memilih langsung bentuk, bahan, warna, dan bahkan panjang tasbih yang diinginkannya.
 

Artikel Terkait

Previous
Next Post »